Tanomeha, 9 Februari 2025- Pagi itu mendung, tapi tak menyurutkan langkah kami untuk menjalankan tugas. Dua perahu telah siap mengantarkan kami ke Ou Laro, lokasi yang akan ditutup sementara dari aktivitas penangkapan ikan. Perjalanan dari jembatan Tanomeha memakan waktu sekitar 30 menit. Selama perjalanan, hamparan hutan mangrove berdiri rapi di sisi kiri dan kanan, seolah menjadi pagar alami yang melindungi padang lamun dan terumbu karang di perairan sekitar.
Saat memasuki wilayah Ou Laro, saya akhirnya tahu kenapa wilayah tersebut diberi nama demikian. Dalam bahasa Kaledupa, “Ou” berarti laguna, sedangkan “Laro” berarti dalam. Wilayah laguna ini dikelilingi oleh mangrove yang lebat. Untuk dapat masuk ke lokasi, kami harus menyusuri sela-sela hutan mangrove yang padat.
Perjalanan terus berlanjut hingga kami mencapai sebuah pulau kecil di ujung paling selatan Kaledupa. Mata saya tertuju pada beberapa rumah sederhana yang berdiri kokoh di pesisir pantai, yang disebut sebagai One oleh masyarakat setempat. Ternyata, itu adalah “fale-fale,” rumah persinggahan sementara bagi masyarakat yang digunakan untuk beristirahat setelah berkebun. Kami pun meminta izin untuk berhenti sejenak di sana, menunggu rombongan perahu lainnya tiba.
Setelah semuanya berkumpul, persiapan pun dimulai. Seorang perempuan paruh baya yang kami panggil Faina (mama), yang bertugas sebagai penata isian sesajen, memimpin kami untuk menggelar tikar, menata kandea yang berisi sesajen, serta menyiapkan pelita dan dupa di bawah pohon rindang. Dahulu, di tempat itu terdapat sebuah bangunan kecil yang digunakan untuk ritual persembahan atau sesajen. Salah satu tokoh adat kemudian memimpin doa, seraya memohon keberkahan atas proses penutupan sementara ini.

Kegiatan penutupan sementara atau Temporary Closure (TC) ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk melindungi populasi gurita di perairan Darawa. Dengan jeda waktu yang diberikan, gurita memiliki kesempatan untuk tumbuh, berkembang biak, dan meningkatkan hasil tangkapan di masa depan.
Prosesi doa atau joaka juga dilakukan di atas batu gamping yang dipenuhi tumbuhan belukar. Lokasinya tak jauh dari tempat pertama, hanya sekitar tiga menit perjalanan dengan perahu. Namun, cuaca yang mulai berombak membuat kami kesulitan berpindah dari perahu ke atas batu.
Berbeda dari prosesi sebelumnya yang dilakukan di bawah pohon rindang, di tempat ini ritual dilaksanakan di dekat bangunan kecil seperti rumah yang beratap seng biru. Rumah kecil ini dikelilingi oleh kain putih. Faina kembali menyusun sesajen. Ia memasukkan telur dan lapa ke dalam rumah kecil tersebut sebagai bagian dari persembahan. Setelah itu, ia mengeluarkan kelapa muda dari keranjangnya, menusuk-nusuknya dengan tumbuhan, lalu menyiramkan air kelapa ke kanan dan kiri sebagai simbol doa dan harapan.

Setelah ritual selesai, kami kembali ke One. Di sana, kami menikmati cucur, wajik, dan berbagai makanan yang telah kami bawa bersama kelompok LMMA Kadie Langge. Tradisi dan alam berpadu dalam sebuah ritual yang bukan sekadar seremonial, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada laut dan keseimbangan ekosistem yang menjadi tumpuan hidup masyarakat pesisir.



