Sombano, 28 April 2025— Pagi mulai menghangat di Toruntu. Semilir angin membawa aroma asin laut, menyambut prosesi pembukaan kawasan tangkap gurita di perairan Sombano. Di bawah rindang pohon Melai (dalam bahasa Keledupa), warga telah berkumpul di Goje-goje, tempat duduk dari bambu yang tersusun rapi.
Beragam penganan mulai berdatangan, dari kue-kue modern hingga kudapan tradisional. Tak ketinggalan kandea, tempat sajian khas dalam prosesi adat yang berisi cucur, wajik, telur, dan nasi, sebagai lambang doa dan syukur.
Prosesi joaka atau harua’a dipimpin oleh seorang tokoh adat. Di tengah naungan pohon Melai dan asam yang menghadap laut, doa-doa dipanjatkan. Warga duduk melingkar, mengamini setiap batata, ungkapan harapan dan restu yang dilantunkan dengan khidmat.

Berbeda dari pembukaan tahun-tahun sebelumnya, penangkapan gurita baru dimulai menjelang senja. Langit mulai berpendar jingga ketika para nelayan turun ke laut, membawa harapan baru di ujung puria, besi sepanjang satu meter yang menjadi alat utama mereka untuk menyisir celah karang.
Sekitar 90 menit berselang, hasil tangkapan mulai tampak. Gurita-gurita dewasa berhasil diangkat, namun ukurannya tak sebesar musim panen tahun lalu. Situasi ini menimbulkan tanda tanya di kalangan warga.
La Pante, seorang pengepul gurita berpengalaman di Sombano, menyampaikan pandangannya dalam sesi musyawarah di Kantor Desa Darawa malam harinya. “Memang ukurannya sudah dewasa, tapi tidak sebesar sebelumnya. Mungkin musim tangkapnya belum benar-benar masuk,” ujarnya sambil mengamati gurita-gurita hasil tangkapan hari itu.
Ia menekankan pentingnya kajian lebih dalam untuk memahami siklus pertumbuhan gurita di perairan Sombano. Menurutnya, keberhasilan sistem buka-tutup kawasan tangkap tak hanya bergantung pada waktu, tapi juga pada pemahaman terhadap dinamika ekologi laut yang terus berubah.
Ritual adat, aktivitas penangkapan, hingga diskusi malam di balai desa merupakan satu kesatuan utuh dari praktik kelola sumber daya berbasis kearifan lokal. Di Sombano, laut tak sekadar menjadi ladang penghidupan, melainkan ruang spiritual dan tempat belajar yang terus memberi.



