Gurita, Doa, Puria, dan Harmoni Laut

Gurita, Doa, Puria, dan Harmoni Laut

Tanomeha, 2 Mei 2025— Fajar baru saja menyingsing saat nelayan dan warga Desa Tanomeha mulai berdatangan ke dermaga. Laut masih berselimut tenang, sementara langit di ufuk timur perlahan merekah. Hari itu, mereka bersiap menandai berakhirnya masa penutupan sementara (Temporary Closure) kawasan tangkap gurita di Ou Laro, sebuah laguna tenang yang dipeluk lebatnya hutan mangrove.

Dengan deru pelan perahu ketinting, rombongan melaju menyusuri lorong-lorong alami mangrove Tanomeha. Kicauan burung menjadi latar perjalanan, seolah menyambut mereka yang akan berpamitan pada jeda, dan kembali pada laut. Di kejauhan, perahu-perahu nelayan lainnya juga menuju ke tujuan yang sama, Pulau One-one, tempat prosesi adat pembukaan akan digelar.

Perjalanan Menuju One-one

Perjalanan sekitar 45 menit itu membawa mereka pada lanskap yang akrab namun selalu bermakna. Setibanya di One-one, langkah mereka terarah ke sebuah area sakral, di mana doa akan dipanjatkan. Di sana, kandea sebagai tempat sesajen berbentuk kerucut mulai tersaji, berisi cucur, nasi, telur, dan wajik. Warga duduk melingkar, hening dalam kesakralan pagi.

Joaka, atau proses berdoa dipimpin seorang pria paruh baya. Diakhir menadahkan tangan, Kepala Desa Tanomeha mengucapkan batata-tata, harapan bagi laut dan hasil tangkap. Dalam bahasa Kaledupa yang mengalun lirih, ia berkata “Semoga gurita melimpah, ikan melimpah, juga bisa memberikan kita semua keberkahan.”

Doa bersama di One-one

Doa tak berhenti di satu tempat. Prosesi dilanjutkan ke atas batu karang di dekat sana, sebuah titik yang juga disakralkan. Ombak mulai menggeliat, namun tak memadamkan semangat. Sesajen kembali disusun, batata kembali dilantunkan.

Usai prosesi, para nelayan bersiap. Dengan puria, besi sekitar satu meter yang telah mereka warisi dari generasi ke generasi sebagai alat tangkap khusus gurita. Mereka menyusuri batu-batu karang, mencari tanda-tanda kehidupan yang bersembunyi di celahnya. Hanya satu jam berselang, hasil mulai terlihat. Beberapa ekor gurita dewasa, masing-masing sekitar satu kilogram, muncul dari laut sebagai buah dari kesabaran dan penghormatan.

Tradisi buka tutup kawasan tangkap bukan sekadar strategi pengelolaan, tetapi juga ritual ekologis. Sebuah bentuk penghormatan terhadap laut, yang tak hanya memberi makan, tapi juga makna. Di Tanomeha, laut bukan sekadar sumber daya ia adalah warisan, tempat bergantung, dan ruang spiritual.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cari

Scroll to Top