Lohoa, 6 Juni 2026 – Puluhan anggota keluarga nelayan dan perempuan pesisir di Dusun Lohoa mengikuti Pelatihan Literasi Keuangan Rumah Tangga Nelayan yang berlangsung di Aula SD Lohoa, Sabtu (6/6). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat pesisir dalam mengelola keuangan keluarga di tengah ketidakpastian pendapatan dari sektor perikanan.
Pelatihan yang berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 16.00 WITA ini diikuti oleh anggota kelompok nelayan, keluarga nelayan, anggota kelompok simpan pinjam atau Village Savings and Loan Association (VSLA), serta perempuan pesisir yang berperan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.
Kegiatan dibuka oleh pendamping lapangan, Masrika, yang menekankan pentingnya peran perempuan dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga nelayan. Menurutnya, kemampuan mengatur keuangan menjadi salah satu kunci menghadapi perubahan musim tangkapan yang memengaruhi pendapatan rumah tangga pesisir.

Materi pelatihan disampaikan oleh Hasanuddin dari Forkani melalui presentasi interaktif, diskusi, dan simulasi kelompok. Dalam pemaparannya, Hasanuddin menjelaskan bahwa literasi keuangan bukan ditentukan oleh besar kecilnya pendapatan, melainkan kemampuan mengelola pendapatan agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga secara berkelanjutan.
Peserta diajak mengidentifikasi berbagai sumber pendapatan rumah tangga, baik dari hasil melaut maupun pekerjaan sampingan, serta memetakan berbagai jenis pengeluaran keluarga. Selain itu, peserta juga mengikuti latihan membedakan kebutuhan dan keinginan dalam pengelolaan belanja rumah tangga.
Pada sesi simulasi, peserta dibagi ke dalam kelompok kecil untuk menyusun anggaran rumah tangga sederhana berdasarkan kondisi pendapatan nelayan yang tidak menentu. Melalui kegiatan tersebut, peserta belajar mengalokasikan pendapatan ke dalam berbagai pos pengeluaran dan tabungan menggunakan pencatatan buku kas.
Pelatihan juga membahas pentingnya menabung dan membangun dana darurat untuk menghadapi risiko kecelakaan kerja saat melaut maupun kebutuhan mendesak lainnya. Selain itu, peserta diperkenalkan dengan mekanisme VSLA sebagai alternatif simpan pinjam berbasis komunitas yang dinilai lebih aman dan transparan.