Sombano, 15 Mei 2025— Sejumlah nelayan dan warga Desa Sombano mengikuti pelatihan penanganan pasca tangkap perikanan yang dilaksanakan di Kantor Desa Sombano. Kegiatan ini difasilitasi oleh Samran dari Koperasi Nelayan Produsen Nelayan Samata Padakkau.
Dalam pelatihan tersebut, Samran menjelaskan bahwa perikanan adalah sebuah sistem yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu produksi, penanganan dan pengolahan, serta pemasaran. Tahapan pasca tangkap menjadi salah satu yang paling krusial karena menentukan kualitas akhir dari produk perikanan.
“Ikan kerapu dan kakap adalah dua komoditas bernilai tinggi yang sangat potensial untuk dijadikan usaha. Selain memiliki harga jual yang tinggi, kedua jenis ikan ini belum terkena pembatasan tangkap, sehingga bisa menjadi komoditas unggulan,” terang Samran.

Peserta pelatihan diperkenalkan pada berbagai indikator mutu ikan seperti kondisi mata, insang, tekstur daging, kulit dan lendir, serta keadaan perut dan bau. Menurut Samran, faktor-faktor yang mempengaruhi mutu ikan antara lain adalah cara ikan mati, kondisi biologis serta lingkungan hidup, sanitasi dan higiene, serta suhu selama penanganan.
Salah satu hal penting yang disampaikan adalah penghindaran terhadap ikan yang sedang bertelur. “Kami menghindari ikan yang memiliki gonad atau telur, karena sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kondisi psikologis ikan itu sendiri,” jelasnya.

Pelatihan ini juga mencakup penanganan khusus terhadap ikan hidup, seperti kerapu dan sunu, yang memiliki harga lebih menjanjikan. Selain itu, peserta diajarkan cara penyimpanan ikan segar yang tepat menggunakan es dan box pendingin. Posisi ikan juga harus disusun dengan teliti — telentang, dengan perut di atas untuk menghindari kebocoran dan kerusakan, serta disusun dari ukuran besar ke kecil.
Dalam sesi diskusi, Kamil menanyakan tentang ciri-ciri ikan yang ditangkap menggunakan bom atau bius. Menurut Samran, ikan hasil tangkapan tidak ramah lingkungan tersebut dapat dikenali dari kondisi fisiknya, seperti sisik di bagian perut yang terkelupas, mata yang memudar, dan sirip yang terbuka. “Ikan seperti ini pastinya tidak layak masuk pasar ekspor,” tegasnya.
