Aroma jahe, lengkuas, berbagai jenis rimpang, serta dedaunan tanaman obat memenuhi area Festival Tanaman Obat Barata Kahedupa sejak siang hari. Wangi rempah-rempah yang khas bercampur dengan suara riuh pengunjung yang mulai memadati lokasi kegiatan di Fungka Nu Camat, Kecamatan Kaledupa, Wakatobi. Festival yang berlangsung pukul 13.00–17.00 WITA ini menghadirkan berbagai tanaman herbal dalam display pameran tanaman obat tradisional. Sementara di sisi lain, booth pangan dan produk lokal memperkenalkan beragam hasil olahan khas Kaledupa kepada para pengunjung, mulai dari soami, ikan asin, hingga kerupuk singkong.
Festival ini menjadi ruang pertemuan banyak generasi. Anak-anak sekolah jenjang SMP dan SMA hadir bersama guru-guru pendamping, kepala desa se-Kaledupa, Camat Kaledupa, ibu-ibu PKK kecamatan hingga PKK kabupaten. Di tengah suasana itu, masyarakat diajak kembali mengingat pengetahuan lama tentang tanaman herbal yang selama ini hidup dekat dengan keseharian masyarakat Pulau Kaledupa.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Women in Tourism Indonesia, Forkani, dan Potondo ini dibuka dengan lomba tangki-tangki atau tebak-tebakan tradisional. Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menebak jenis tanaman obat dari petunjuk yang diberikan. Suasana riuh terdengar ketika peserta saling berebut jawaban sambil mencoba mengingat nama-nama tanaman yang biasa tumbuh di halaman rumah maupun kebun masyarakat.
Ada tanaman dari dedaunan, rimpang, batang, hingga buah yang selama ini digunakan sebagai pengobatan tradisional. Permainan sederhana itu perlahan berubah menjadi ruang berbagi cerita. Beberapa peserta bahkan mulai menghubungkan tanaman yang disebut dengan pengalaman mereka saat dirawat orang tua menggunakan ramuan tradisional.
Festival kemudian dilanjutkan dengan talkshow tentang pentingnya adaptasi iklim bagi kehidupan masyarakat pulau bersama Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, Kepala SPTN Wilayah II Kaledupa, La Ode Aslam Lala Surachmadi, dan Masrika dari Forum Kahedupa Toudani.
Dalam diskusi tersebut, perubahan musim yang semakin tidak menentu disebut mulai memengaruhi banyak aspek kehidupan masyarakat pulau, termasuk kesehatan dan cara masyarakat bertahan menghadapi kondisi alam yang berubah.
“Perubahan iklim mengganggu banyak aspek kehidupan masyarakat, terutama masyarakat di pulau. Upaya mengangkat kembali pengetahuan lokal ini menjadi salah satu cara untuk membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan yang tidak menentu tersebut,” ujar Muhammad Ilman.

Bagi masyarakat Kaledupa, tanaman obat bukan sekadar pelengkap pengobatan, tetapi bagian dari cara hidup yang diwariskan turun-temurun. Pengetahuan itu kembali dihidupkan melalui workshop pembuatan obat tradisional yang dipandu oleh tiga perempuan dari Desa Pajam: Wd. Hijari, Wd. Hayani, dan Wd. Una-Una.
Di hadapan peserta, ketiganya memperlihatkan cara meracik berbagai tanaman menjadi obat tradisional untuk kebutuhan sehari-hari. Tangan mereka terlihat begitu terbiasa mengupas kulit kayu, menumbuk dedaunan, hingga menjelaskan fungsi setiap bahan yang digunakan.

“Kita mau ke mana untuk berobat? Dulu tidak ada rumah sakit, tidak ada obat yang bisa dibeli di warung atau apotek. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan tanaman-tanaman ini. Kalau panas tinggi, kadang kami dibaringkan di atas tombi-tombi atau pupus pisang,” ujar Wa Ode Una-Una sembari membuka kulit kayu yang akan digunakan sebagai bahan obat.