Lohoa, 4 Juni 2024– Sejumlah nelayan di Dusun Lohoa, Desa Tanomeha, mengikuti kegiatan pemaparan data hasil tangkapan gurita yang dikemas dalam format analisis cepat dan analisis penuh. Presentasi data dilakukan oleh Arman selaku Koordinator Data Perikanan Forkani.
Arman memulai dengan menjelaskan tujuan dari analisis cepat, yaitu menyampaikan hasil tangkapan nelayan selama tujuh hari pasca-pembukaan area tangkapan Temporary Closure (TC) di lokasi Ou Laro. Dari data yang dihimpun selama satu minggu, tercatat total tangkapan gurita sebanyak 166 kilogram dengan rata-rata hasil tangkapan atau Catch Per Unit Effort (CPUE) sebesar 4 kilogram per trip.
Semua gurita yang tertangkap tercatat dalam kategori dewasa. Sebanyak 23 nelayan dan 4 pembeli terlibat dalam aktivitas tangkap tersebut. Dalam seminggu itu, pendapatan total nelayan mencapai Rp 4.828.000, dengan rata-rata pendapatan per trip sebesar Rp 121.312.
Lebih lanjut, Arman menyampaikan analisis penuh yang dilakukan untuk membandingkan data selama satu bulan sebelum dan sesudah pembukaan lokasi TC. Sebelum pembukaan, jumlah tangkapan tercatat sebanyak 337 kilogram dengan CPUE yang sama, yakni 4 kilogram per trip. Sebanyak 43 nelayan dan 8 pembeli terlibat dalam aktivitas penangkapan. Total pendapatan nelayan dalam periode ini mencapai Rp 9.983.000 dengan rata-rata Rp 111.952 per trip.
Setelah pembukaan, hasil tangkapan menurun menjadi 200 kilogram, dengan jumlah nelayan yang turun menjadi 24 orang dan pembeli menjadi 4 orang. Meski demikian, rata-rata pendapatan per trip meningkat sedikit menjadi Rp 121.652. Data ini menunjukkan bahwa meskipun total hasil tangkapan menurun, intensitas dan efisiensi per trip tetap terjaga, bahkan mengalami peningkatan dalam nilai ekonomi.
Dalam sesi diskusi bersama, Arman mengajak nelayan untuk menanggapi data tersebut. Salah satu pembeli yang juga merupakan anggota kelompok pengelola masyarakat (LMMA), La Eda, menyampaikan bahwa penurunan hasil tangkapan pasca pembukaan kemungkinan besar disebabkan oleh kondisi cuaca yang tidak menentu. Menurutnya, perubahan cuaca selama seminggu setelah pembukaan membuat banyak nelayan tidak bisa melaut seperti biasa.
Selain memaparkan data, Arman menekankan pentingnya peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menentukan lokasi yang akan ditutup, turut melakukan pengawasan, serta menyosialisasikan aturan yang berlaku.
Ia juga menyoroti pentingnya aktivitas monitoring hasil tangkapan, baik oleh nelayan yang mencatat hasilnya, pembeli yang mendorong pelaporan, maupun enumerator yang mencatat, mengukur, dan menginput data ke dalam sistem Kobo Toolbox yang terintegrasi dengan dashboard perikanan.
“Data bukan hanya untuk laporan, tapi juga alat masyarakat untuk merawat lautnya sendiri,” ungkap Arman dalam penutupannya.



